-->

Abaikan Jika Melihat Iklan Binary Options (Opsi Biner) pada Situs ini, Baca : Perbedaan Forex dengan Binary Options

Daftar Akun XM
image3

Apa itu Inflasi ? Pentingkah untuk diperhatikan dalam Trading ?

Daftar Akun Exness

Inflasi adalah Peningkatan Harga Barang dan Jasa dalam suatu Negara di Periode Tertentu


Inflasi tidak serta merta merupakan kenaikan harga saja, jika toko langganan anda menaikkan harga, maka itu bukan inflasi. namun jika survei lembaga statistik telah menyimpulkan ada tren kenaikan harga bawang, cabai, dan berbagai bahan makanan lain, serta buah, pakaian, BBM, biaya kesehatan, biaya pendidikan, dan berbagai barang atau jasa lainnya dalam satu periode tertentu (biasanya bulanan), maka itu yang dinamakan inflasi.

Inflasi berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain seperti konsumsi masyarakat yang meningkat, berlebihnya likuiditas di pasar yang memicu tingginya permintaan, ketidaklancaran persediaan atau distribusi barang, dsb.

Contoh : saat terjadi bencana alam di suatu provinsi, kemudian distribusi bantuan ke daerah tersebut terhambat, maka harga berbagai barang di provinsi tersebut secara otomatis akan meningkat, misalkan uang 50rb yang biasanya bisa untuk membeli 10kg beras, bisa menjadi hanya bisa untuk membeli 8kg saja setelah bencana alam tersebut.

Apabila ini terjadi pada barang-barang lainnya, juga biaya layanan jasapun akan berlangsung lama peningkatannya, maka akan timbul inflasi.

Dalam kondisi ekonomi normal pun tetap akan terjadi inflasi apabila pertumbuhan populasi meningkat, karena permintaan akan barang dan jasapun akan naik terus menerus. ilustrasi sederhana : permen yang harganya hanya 25 rupiah pada tahun 1990an, sekarang harganya sudah 100,200 bahkan lebih. jadi inflasi ini juga merupakan proses menurunnya daya beli mata uang secara terus menerus.

Ada beberapa cara yang digunakan untuk mengukur tingkat inflasi, namun pada umumnya inflasi ditilik dari indeks harga konsumen (Consumer Price Index/CPI) dan indeks harga produsen (Producer Price Index/PPI).

CPI mengacu pada harga barang dan jasa di tingkat konsumen (harga yang kita bayarkan ke toko atau penyedia jasa), sedangkan PPI berdasarkan harga di tingkat produsen, atau dengan kata lain, biaya yang dikeluarkan produsen untuk memproduksi barang dan menyediakan jasa.

Biasanya, data-data ini dirilis setiap bulan oleh badan statistik setiap negara, dan menjadi bahan pertimbangan untuk pemerintah membuat keputusan, juga bank sentral, pengusaha, maupun investor.

Inflasi dibagi kedalam beberapa jenis, yaitu inflasi ringan, inflasi sedang, inflasi berat, dan hiperinflasi. selain itu terdapat juga situasi yang berkebalikan dengan inflasi, yaitu deflasi, yang berarti apabila indikator harga (CPI atau PPI) bukannya meningkat, melainkan menurun (disebut juga inflasi negatif).

Dalam keadaan normal, tingkat inflasi akan selaras dengan tingkat pertumbuhan ekonomi sebuah negara. diantara negara-negara berkembang, biasanya inflasi dianggap wajar apabila berada di sekitar 3-4% per tahun dengan toleransi deviasi antara 1-2%. namun untuk negara-negara maju seperti Amerika, Euro, Inggris, dan Jepang, bank sentral biasanya menargetkan inflasi hanya 2% saja.

Apabila sampai terjadi inflasi berat atau bahkan hiperinflasi, maka itu bisa mengindikasikan kalau suatu negara tengah sedang dalam krisis ekonomi (resesi). contoh : ketika Presiden Robert Mugabe dari Zimbabwe ingin mempertahankan kekuasaannya, ia mencetak lebih banyak uang Dolar Zimbabwe. yang berakibat justru merusak perekonomian. jumlah barang dan jasa yang tersedia menurun akibat salah kebijakan, sedangkan jumlah uang beredar meningkat. sehingga masyarakat berebut mengeluarkan dana sebesar-besarnya untuk mendapatkan barang yang mereka butuhkan. hal ini memicu kenaikan harga secara drastis hingga inflasi mencapai puluhan ratusan, jutaan, hingga milyaran persen dalam setahun (hiperinflasi). daya beli mata uangnya di dalam negeri anjlok dan kurs nilai tukarnya merosot drastis, mulai tahun 2009, Zimbabwe tidak lagi mencetak uang sendiri dan masyarakat terpaksa menggunakan mata uang asing seperti Dolar AS, Euro, dan Yuan untuk bertransaksi sehari-hari.

Inflasi memiliki dampak positif dan dampak negatif, tergantung parah atau tidaknya inflasi itu sendiri.

Dampak Deflasi Hanya karena inflasi dapat berdampak negatif, tidak lantas berarti deflasi (penurunan harga-harga barang dan jasa) itu baik. Coba bayangkan: apabila harga barang-barang menurun, lalu bagaimana perusahaan-perusahaan akan mendapatkan keuntungan? Dari mana mereka akan punya dana untuk berekspansi usaha dan merekrut karyawan baru? Dan jika deflasi makin parah hingga perusahaan-perusahaan tak mampu menggaji karyawannya, bukankah nantinya bisa terjadi PHK massal yang mengawali resesi ekonomi!? Oleh karena inilah, negara-negara maju sangat takut kalau akan terjadi deflasi (baca juga:Dampak Deflasi terhadap Perekonomian dan Mata Uang).

Dampak Inflasi Ringan 

Inflasi ringan justru mempunyai pengaruh yang positif karena dapat mendorong perekonomian sebuah negara agar menjadi lebih baik, apabila harga-harga meningkat secara moderat, maka perusahaan-perusahaan bisa mendapatkan kenaikan keuntungan, dan keuntungan itu akan mendorong mereka untuk berekspansi, membuka lebih banyak lapangan kerja, dan memberikan gaji lebih tinggi.

Bagi masyarakat umum, inflasi akan membuat orang lebih bergairah untuk bekerja, menabung dan mengadakan investasi, yang akibatnya pendapatan negara meningkat dan pertumbuhan ekonomi terkendali.

Adanya inflasi akan menguntungkan orang-orang yang pendapatannya meningkat sejalan dengan pertumbuhan ekonomi, seperti misalnya pengusaha, begitupun juga dengan pegawai yang bekerja di perusahaan dengan gaji yang terus ditingkatkan dari waktu ke waktu.

Namun inflasi ringan pun dapat merugikan para penerima pendapatan tetap, khususnya pensiunan, penerima pendapatan tetap ini akan kewalahan menanggung dan mengimbangi kenaikan harga barang kebutuhan, sehingga kualitas hidup menurun.

Contoh : seorang pensiunan pegawai negeri tahun 1990. pada tahun 1990, uang pensiunnya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, namun di tahun 2003 (tiga belas tahun kemudian), daya beli uangnya mungkin hanya tinggal setengah. yang artinya uang pensiunnya tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. inilah salah satu alasan mengapa orang-orang disarankan melakukan investasi sejak dini.

Dampak Inflasi Sedang

Inflasi yang lebih tinggi dibanding target bank sentral dapat menyebabkan orang enggan untuk menabung karena nilai mata uang semakin menurun secara tidak proporsional dengan pertumbuhan ekonomi.

Umpama seseorang memiliki tabungan, kemudian pendapatan bunganya lebih rendah dibanding inflasi, maka ia takkan mau menabung lagi, apabila masyarakat mulai enggan menabung, maka dunia usaha dan investasi akan sulit berkembang. karena dunia usaha membutuhkan dana untuk berkembang, yang mana sebagian dana tersebut bersumber dari pinjaman bank yang disalurkan dari tabungan masyarakat. oleh karena itu bank sentral setiap negara biasanya akan menaikkan suku bunga acuan apabila inflasi sampai mencapai target atau lebih dari itu.

Dampak Inflasi Berat

Sebagaimana nampak pada kronologi Zimbabwe diatas, apabila inflasi terlalu tinggi atau bahkan terjadi hiperinflasi, maka keadaan perekonomian akan menjadi kacau. masyarakat akan menjadi tidak bersemangat unuk bekerja apalagi menabung, juga seperti produksi dan investansi.

Apa Hubungannya dengan Trading ?

Semua Indikator yang bisa menggambarkan kondisi perekonomian sebuah negara tentunya akan membantu trader untuk mengidentifikasi kondisi kekuatan mata uang negara terkait, terlebih jika melakukan trading dengan dasar fundamental, trading dengan teknikal ? tetap bisa sebagai antisipasi.

Baca Juga :


Semoga Bermanfaat :)

KATEGORI KONTEN : Trading

BAGIKAN :

CONVERSATION

Daftar Akun XM