-->

Abaikan Jika Melihat Iklan Binary Options (Opsi Biner) pada Situs ini, Baca : Perbedaan Forex dengan Binary Options

Daftar Akun XM
image3

Sudah tau apa itu Black Swan di Pasar Forex ?

Daftar Akun Exness

Black Swan adalah sebutan untuk Peristiwa yang terjadi di luar Dugaan dan Menimbulkan Kegemparan Hebat di pasar Finansial.


Peristiwa bisa disebut Black Swan apabila peristiwa tersebut : kemungkinan terjadinya rendah, berdampak sangat besar di pasar finansial dunia, dan setelah peristiwa terjadi kemudian banyak orang mulai menyadari bahwa hal itu seharusnya bisa diperkirakan.

Terminologi Black Swan ini berasal sejak abad ke-17, bermula dari asumsi masyarakat Eropa bahwa semua angsa berwarna putih, padahal sebenarnya ada angsa hitam yang hidup di alam liar.

Dalam konteks ini, angsa hitam (Black Swan) sering dilihat sebagai simbol untuk sesuatu yang tidak terprediksi dan berdampak besar, sesuatu yang luar biasa di luar kendali, atau sesuatu yang semestinya eksis dalam anggapan umum.

Di era modern, istilah ini dipopulerkan oleh Nassim Nicholas Taleb, seorang mantan trader Wall Street yang kemudian menjadi penulis dan profesor kenamaan di bidang keuangan, bukunya berjudul The Black Swan (diterbitkan tahun 2007)


Menurut Taleb, aneka penemuan ilmiah dan peristiwa yang menjadi fenomena Black Swan terjadi dengan tidak diramalkan sebelumnya, misalnya adalah kemunculan internet, komputer pribadi, Perang Dunia I, termasuk peristiwa 11 September 2001 yang menenggelamkan mata uang dollar dalam sekejap, dan lain-lain.

Dalam bukunya, Taleb juga menyampaikan sejumlah perspektif yang diperlukan pelaku pasar untuk mengantisipasi dan menanggapi peristiwa Black Swan. Buku Taleb yang memaparkan teori Black Swan ini kemudian masuk dalam jajaran best seller serta ditempatkan dalam daftar 12 buku paling berpengaruh pasca Perang Dunia II oleh The Sunday Times.

Berikut ini adalah beberapa peristiwa menggemparkan yang kerap disebut sebagai contoh Black Swan di pasar finansial :

Krisis Finansial Asia (1997)


Pemicu Krisis Finansial Asia adalah keputusan Thailand untuk melepas pegging (patokan) nilai tukar Bhat terhadap Dolar AS, keputusan itu berdampak domino hingga terjadi devaluasi mata uang di seluruh Asia Tenggara dan Asia Timur, Sebagian besar mata uang Asia anjlok hingga 38% dan pasar saham dunia melorot hingga 60%.

George Soros dituduh memicu krisis ini dengan melakukan shorting atas Baht dan memanen profit dari jatuhnya mata uang-mata uang Asia, namun ia berdalih bahwa dirinya tidak memicu krisis, walau tak menampik langsung kalau ia ada andil dalam gejolak yang terjadi.

Pecahnya Dot Com Bubble (2000)


Seiring dengan makin meluasnya penggunaan internet di seluruh dunia, bisnis-bisnis daring yang disebut juga perusahaan Dot Com mengalami peningkatan pesat.

Harga sahamnya meroket, terlihat dari kenaikan indeks NASDAQ (indeks saham AS yang berfokus pada emiten sektor teknologi) dari 1,000 poin di tahun 1995 ke lebih dari 5,000 di tahun 2000.

Saat NASDAQ di puncak, mendadak sejumlah perusahaan mayor seperti Dell dan Cisco melakukan aksi jual atas saham-sahamnya, sehingga memicu panic selling, akibatnya dalam waktu kurang dari sebulan, nyaris satu triliun Dolar AS hangus dari pasar.

Indeks komposit NASDAQ yang sempat naik 682% dari 751.49 pada Januari 1995 ke 5,132.52 pada Maret 2000, terjun bebas hingga 78% dan terdampar di 1114.11.

Meski sejumlah perusahaan Dot Com dari masa itu masih sukses hingga kini, seperti Amazon, eBay, dan Netflix, tetapi tak sedikit perusahaan teknologi AS yang terlindas oleh insiden Black Swan ini.

Bangkrutnya Lehman Brothers (2008)


Sebelum peristiwa Black Swan ini terjadi di tahun 2008, Lehman Brothers termasuk salah satu perusahaan jasa keuangan kawakan dunia dan menempati posisi bank investasi terbesar keempat di Amerika Serikat.

Namun pada 15 September 2008, Lehman Brothers mendadak mendeklarasikan kebangkrutan, saat itu perusahaan ini memiliki aset senilai $639 milyar dan utang sebesar $619 milyar, sehingga menjadikannya deklarasi kebangkrutan terbesar dalam sejarah.

Kebangkrutan Lehman Brothers sekaligus mengungkap kebobrokan praktek sertifikasi utang sektor properti dalam sistem finansial AS yang kemudian dikenal dengan istilah Krisis Subprime Mortgage, yang akibatnya kekhawatiran meluas ke seluruh dunia karena para investor khawatir lembaga-lembaga keuangan besar lainnya akan ikut tumbang.

Dampak domino yang lebih besar dari peristiwa Black Swan ini berhasil terhindarkan, setelah pemerintah Amerika Serikat menyalurkan dana untuk mem-bail out perusahaan-perusahaan keuangan bermasalah yang berpusat di sana. namun pertolongan dari pemerintah AS ini sebenarnya dipandang negatif oleh masyarakatnya sendiri, karena menganggap bahwa dana pajak rakyat diberikan pada orang-orang kaya yang tidak berhak, kejadian ini juga yang kemudian memunculkan julukan too big to fail untuk bank-bank investasi AS.

Krisis Utang Yunani (2010)


Pada tahun 2010, sementara pasar finansial global masih berjuang untuk pulih dari krisis sebelumnya, Yunani tiba-tiba mengumumkan bahwa mereka selama ini menyembunyikan angka defisit anggaran negara yang sesungguhnya.

Keyakinan pasar langsung kolaps, hingga pada tahun 2012 Yunani mendeklarasikan pernyataan gagal bayar utang pemerintah terbesar dalam sejarah.

Situasi semakin memburuk hingga pada 30 Juni 2015 Yunani menjadi negara maju pertama yang gagal membayar cicilan utang pada International Monetary Fund (IMF).

Pasar finansial beraksi spontan, sehingga berdampak pada anjloknya pasar saham dari Hong Kong hingga London, Peristiwa Black Swan ini menggarisbawahi fungsi Emas dan Obligasi Pemerintah AS sebagai safe haven, karena investor dan trader global langsung memburu kedua aset begitu kabar menyeruak.

Meskipun gejolak di pasar finansial global yang ditimbulkan oleh Krisis Utang Yunani ini telah mereda, tetapi negara yang beribukota di Athena itu masih bergantung pada praktek gali lubang tutup lubang untuk menangani keuangannya.

Perekonomiannya mengalami resesi dan pengangguran merajalela. hingga kini pun trader yang memperdagangkan mata uang Euro di pasar forex masih sering berhati-hati jika terdapat kabar rapat renegosiasi utang Yunani dalam berita ekonomi.

Bencana Nuklir Fukushima (2013)


Posisi geografis Jepang yang menjadikannya sering mengalami gempa dan tsunami, namun gempa di tahun 2013 menjadi istimewa karena mengakibatkan kebocoran di instalasi pembangkit listrik tenaga nuklir di Fukushima.

Seketika kejadian itu memunculkan trauma dunia akan insiden Chernobyl (1986) yang meluluhlantakkan satu kawasan di Eropa Timur dengan kontaminasi radiasi masih membekas hingga saat ini. NIKKEI 225 anjlok hingga 14% mencatatkan penurunan terburuk dalam 40 tahun.

Di Amerika Serikat, Dow Jones juga melorot 1.15%, dalam perkembangan selanjutnya Jepang menonaktifkan sebagian besar instalasi nuklirnya untuk sementara. walau demikian, kebocoran di Fukushima belum sepenuhnya tertanggulangi hingga tahun 2017.

Pencabutan Pegging Franc Swiss (2015)


Sebelum 2015, nilai tukar Franc Swiss dipegging setara dengan 1.20 Franc per Euro, namun Swiss National Bank (SNB) selaku bank sentral Swiss mendadak mencabut pegging tersebut sekaligus menurunkan suku bunga depositnya, sehingga seketika menggemparkan dunia finansial.

Segera setelah pengumuman SNB tersebar di media, Franc Swiss melesat 30% versus Euro dan melonjak 25% versus Dolar AS, langkah tak terduga itu juga menghantam pasar saham Eropa, hingga indeks saham Swiss merosot 10 persen dalam waktu singkat.

Jika dibandingkan dengan  peristiwa Black Swan sebelumnya, kebijakan SNB ini bisa dikatakan yang memiliki dampak paling buruk bagi trader forex, bukan hanya banyak trader yang langsung bangkrut, tak sedikit juga jumlah broker forex yang terpaksa gulung tikar seperti salah sataunya Alpari UK, atau menanggung hutang besar setelahnya seperti FXCM US.

Keputusan Inggris Keluar Dari Uni Eropa


Pada Referendum Brexit (2016), Sebelum hasil referendum Brexit diumumkan, konsensus analis menilai Inggris tidak siap untuk keluar dari Uni Eropa, dan masyarakat pun tentunya tidak sebegitu mudahnya untuk setuju. akan tetapi, realita berkata berbeda.

Kubu Pro Brexit unggul dengan selisih tipis versus Kubu Pro Uni Eropa, sehingga seketika mengubur Pounds di level terendah dalam 31 tahun (sejak 1985) versus Dolar AS.

Secara global, kepanikan pasca pengumuman hasil referendum tersebut menghapus sekitar $2 triliun dari pasar finansial dunia, hingga kini para pelaku pasar masih mengamati perkembangan peristiwa ini dengan hati-hati.

Semoga Bermanfaat, Happy Trading & Good Luck!

KATEGORI KONTEN : Trading

BAGIKAN :

CONVERSATION

Daftar Akun XM