informasi investasi, informasi saham, informasi forex, informasi kripto, informasi saham hari ini, informasi forex hari ini, informasi kripto hari ini, fundamental saham, fundamental forex, fundamental kripto, berita investasi, berita saham, berita forex, berita kripto, berita saham hari ini, berita forex hari ini, berita kripto hari ini, artikel investasi, artikel saham, artikel forex, artikel kripto, prediksi saham, prediksi forex, prediksi kripto, analisa saham, analisa forex, analisa kripto, trading saham, trading forex, trading kripto, belajar trading saham, belajar trading forex, belajar trading kripto, panduan trading saham, panduan trading forex, panduan trading kripto, tips trading saham, tips trading forex, tips trading kripto.
image3

Perbedaan SMA, EMA dan WMA.

Published at December 2019
Content Category : Forex Teknikal
Tokocrypto Powered by Binance

Ketiganya merupakan pengembangan dari Moving Average (MA), yang membedakan adalah Rumus atau Cara Perhitungannya yang mempengaruhi tingkat Kesensitifannya terhadap Pergerakan Harga.


MA merupakan Indikator sederhana yang cukup mudah dalam penerapannya, Moving Average dihitung berdasarkan nilai rata-rata pergerakan harga dalam periode tertentu, nilai rata-rata diambil dari harga tertinggi (High), terendah (Low), harga pembukaan (Open), penutupan (Close), ataupun harga tengah (Median).

Semakin panjang periode yang digunakan dalam perhitungan, maka pergerakan garis akan semakin lambat (lagging) dibandingkan harga, sebaliknya moving average dengan periode pendek akan lebih lincah mengikuti pergerakan harga.

  • SMA adalah kependekan dari Simple Moving Average
  • EMA adalah kependekan dari Exponential Moving Average
  • WMA adalah kependekan dari Weighted Moving Average 

SMA (Simple Moving Average)

Rumus Perhitungan = Jumlah harga selama satu periode / periode waktu, contoh dengan SMA periode 5 (SMA-5), dihitung dari harga penutupan (Close) pada timeframe Daily, harga Penutupan Harian: 11 s/d 17, maka perhitungannya :

  • SMA-5 Day I : (11 + 12 + 13 + 14 + 15) / 5 = 13
  • SMA-5 Day II : (12 + 13 + 14 + 15 + 16) / 5 = 14
  • SMA-5 Day III : (13 + 14 + 15 + 16 + 17) / 5 = 15

SMA merupakan jenis Moving Average paling sederhana dan paling banyak digunakan oleh trader, khususnya SMA-200 Day.

EMA (Exponential Moving Average)

EMA juga dihitung berdasarkan nilai rata-rata pergerakan harga dalam periode tertentu, namun ditambahkan pembobotan (Multiplier ) lebih tinggi bagi harga yang lebih baru. contoh dengan EMA periode 10 (EMA-10), dari harga penutupan (Close) pada timeframe Daily, maka  perhitungannya :
 
  • SMA = jumlah harga penutupan selama 10 hari / 10
  • Multiplier = (2 / (periode waktu + 1) ) = (2 / (10 + 1) ) = 0.1818 (18.18%)
  • EMA: {Close - EMA(hari sebelumnya)} x Multiplier + EMA(hari sebelumnya)

EMA-10 mengaplikasikan pembobotan sebesar 18.18% bagi harga terkini, namun EMA-20 Day akan mengaplikasikan pembobotan 9.52% bagi harga terkini (2/(20+1)=0.0952), yang artinya pembobotan EMA berperiode pendek akan selalu lebih tinggi bagi EMA berperiode lebih panjang.

Dengan penambahan pembobotan ini, EMA dapat menghasilkan pergerakan yang lebih halus jika dibandikan dengan SMA.

Namun pada Prakteknya, banyak Trader menganggap SMA lebih efektif untuk menentukan level support dan resistance, sedangkan EMA lebih baik sebagai sinyal dengan mengamati crossover antara beberapa garis EMA.

Namun tidak sedikit juga Trader yang sebaliknya menggunakan EMA untuk menentukan level support dan resistance dan menggunakan SMA sebagai sinyal. bahkan memadukan keduanya sekaligus, yang bermacam-macam cara penggunaannya tentu harus disesuaikan dengan Gaya Trading.

WMA (Weighted Moving Average)

Sedangkan untuk WMA, secara keseluruhan masih sama dengan EMA dan SMA, hanya memiliki perbedaan pada pembobotan nilai saja, dimana pembobotan nilai pada WMA akan tergantung pada panjang periode yang ditetapkan, semakin panjang periode yang ditetapkan, maka semakin besar pula pembobotan yang diberikan pada data terbaru

Kelebihan & Kelemahan

  • Indikator SMA minim fake signal karena  pembobotan harga setiap hari dihitung sama, namun lebih lambat dalam menunjukkan sinyal dibandingkan WMA dan EMA
  • Sedangkan WMA dan EMA, lebih cepat dan sensitif terhadap pergerakan harga karena pemberian bobot perhitungan yang lebih berat pada periode terbaru. kelemahannya adalah cenderung lebih sering menunjukkan fake signal jika dibandingkan SMA karena lebih cepat dan sensitif terhadap perubahan harga.

Contoh Penerapan

Dasarnya adalah apabila pergerakan harga berada di bawah garis MA, maka mengindikasikan akan terjadinya trend bearish, sebaliknya apabila pergerakan harga berada di atas garis MA, maka mengindikasikan akan terjadi trend bullish.

  • Entry Buy akan ideal dilakukan ketika garis MA berperiode lebih rendah bergerak memotong garis MA dengan periode lebih tinggi dari bawah ke atas.
  • Sebaliknya entry Sell ideal dilakukan ketika garis MA berperiode lebih rendah bergerak memotong garis MA dengan periode lebih tinggi dari atas ke bawah.

2 Sinyal dari MA diatas disebut dengan Golden Cross dan Death Cross, silahkan Baca lebih lanjut : Tingkat Peluang pada Golden dan Death Cross

Semoga Bermanfaat, Happy Trading & Good Luck!

Bagikan :

CONVERSATION