Trading dengan Broker Terbaik

Crypto Scam - Pig Slaughtering / Pig Butchering / Romance Scam

FBI San Francisco sebelumnya telah memberikan Peringatan mengenai Teknik Penipuan ini.

Teknik Penipuan ini disebut "Pig Slaughtering" / "Pig Butchering" yang berarti "Penyembelihan Babi", dan beberapa orang mengistilahkannya sebagai "Crypto Romance Scam"

Dilaporkan bahwa Teknik Penipuan ini sudah menimbulkan Kerugian milyaran dollar, dan pertama kali marak terjadi di China, yang akhir-akhir ini menjadi lebih sering di Amerika Serikat.

FBI sendiri memperkirakan 24.000 orang Amerika kehilangan lebih dari $1 Milyar atau sekitar 14,5 Trilliun Rupiah dalam Romance Fraud / Penipuan Asmara 2021.

Disebut Romance Fraud karena pelaku kerap menggunakan teks kasih sayang terus menerus yang disebut bom cinta untuk melucuti korban.

Data oleh Global Anti Scam Organization :

Apakah akan marak di Indonesia ?

Menurut Data Global Anti Scam Organization kini pelaku tengah masif di Myanmar, Kamboja, Laos, Filipina, Malaysia, Thailand, dan Dubai.

Baru saja kemarin, laporan telah dirilis oleh Portal Berita ternama, San Francisco Examiner, 2 orang yang mengerti Teknologi menjadi korban Teknik Penipuan ini, dengan kerugian sebesar $2.5jt atau sekitar 36 Milyar Rupiah.

Link Berita : https://www.sfexaminer.com/news/crime/seduced-by-crypto-and-taken-for-millions/article_c61695b6-e1d4-11ec-9333-07be7bfdc802.html

Penipuan ini kerap kali dimulai dari Situs atau Platform Dating / Kencan dan Sosial Media.

Interaksi awal akan berfokus pada upaya pelaku membangun kepercayaan dengan korban, membangun hubungan palsu, yang bisa dilakukan waktu hingga berbulan-bulan atau mungkin lebih lama.

Pelaku sangat terampil merawat hubungan dan tau kapan waktu yang tepat mengangkat topik kripto, yang pada akhirnya berujung pada intruksi investasi.

Pada judul saya mengatakan Paham Teknologi tidak berguna karena Teknik ini cenderung adalah Rekayasa Sosial atau Manipulasi Psikologi yang Sistematis dan Rumit.

Dalam beberapa Kasus Pelaku juga memang menguasai Teknologi dan memadukan dengan kecakapan Rekaya Sosial atau Manipulasi Psikologi-nya.

Bahkan berdasarkan penyelidikan oleh Global Anti Scam Organization, juga mengatakan jika mereka adalah orang-orang yang juga memang menguasai teknologi (pemograman dan sejenisnya), pelaku adalah sebuah kelompok terlatih yang teroganisir dan memiliki target.

Video penjabaran Pig Slaughtering oleh Global Anti Scam Organization :

Laporan oleh San Francisco Examiner diatas adalah contoh Kasus yang saat ini paling disorot.

Laporan menyorot "Kesepian di Silicon Valley" yang telah memicu Gelombang Korban melalui Platform Dating / Kencan."

Berdasarkan Laporan San Francisco Examiner yang saya coba terjemahkan :

Kasus dengan Inisial Korban R (diminta disamarkan berdasarkan referensi), yang merupakan Manajer IT di Bay Area, San Fransisco. kehilangan sekitar $1,3jt atau sekitar 18,8 Milyar Rupiah dengan kronologi yang berawal dari LinkedIn.

Meskipun seorang Manager IT yang menguasai Teknologi komputer, R menyatakan bahwa Profil Profesional pelaku telah berhasil mendapatkan kepercayaannya, dengan terdaftar sebagai Alumni Universitas Teknologi Ternama di Cina.

Setelah interaksi mulai beralih ke whatsapp, pelaku bekerja selama sebulan sebelum akhirnya membuat R berinvestasi Kripto.

“Saya tidak pernah berpikir itu bisa terjadi pada saya, karena saya menggunakan teknologi. saya membuat Software" ujar R.

Kemudian Kasus CY (diminta disamarkan berdasarkan referensi), seorang Analis Real Estate di Bay Area, San Fransisco. kehilangan sekitar $1,2jt atau sekitar 17,4 Milyar Rupiah.

“Saya kehilangan lebih dari sekedar uang, saya kehilangan kepercayaan diri saya, saya telah menghancurkan kehidupan keluarga saya." ujar Cy. 

Setelah mengambil $1,2jt dari CY dengan mekanisme investasi juga, pelaku mengakhiri komunikasi dengan kata-kata, “Sekarang kamu harus Bunuh Diri.”

Dan CY hampir melakukannya.

Global Anti Scam Organization percaya bahwa pekerja di Silicon Valley semakin menjadi Target Teknik Penipuan ini karena terlalu Percaya Diri pada Kecanggihan Teknologi, Kesepian karena Pandemi, dan minat untuk mendapatkan Eksposur Kripto.

R & CY dikabarkan telah bergabung ke layanan Online Support Group yang dibentuk Global Anti Scam Organization.

Grace Yuen dari Global Anti Scam Organization mengatakan “Terkadang rasanya seperti Saluran Telepon Darurat Bunuh Diri.”

Grace Yuen juga mengatakan “jika kasus ini tampaknya lebih banyak terjadi di Silicon Valley dibandingkan tempat lain.”

Terlepas dari Kemajuan dan Kecerdasan Teknologi di Silicon Valley.

“Para korban lebih banyak terlibat secara online karena mereka merasa kesepian di tengah Pandemi.”

“Mereka penasaran dengan Kripto, bertanya-tanya bagaimana mereka bisa bereksperimen dengannya.”

“Terutama di Silicon Valley, mereka mungkin terlalu percaya diri bahwa mereka tidak akan pernah jatuh dalam penipuan semacam itu.”

“Apa yang membuatnya begitu dapat dipercaya adalah kecanggihan teknologinya” ujar Jane Lee, Trust and Safety Architect di Shift.

“Hubungan ini dibangun dari waktu ke waktu, ini benar-benar berjalan terus dan terus, dan itu cukup rumit.”

PANDANGAN PRIBADI

Jika melihat Data Lokasi oleh Global Anti Scam Organization, itu tidak jauh dari Indonesia.

Tingginya minat mayoritas orang Indonesia terhadap Perkembangan Teknologi yang diiringi dengan minimnya literasi, menjadi pantas untuk dikhawatirkan.

Terlepas dari kasus antar Individu, Perusahaan Investasi Bodong, atau sejenisnya. ini adalah mekanisme yang berbeda.

NOTE

Ini tidak mengartikan letak bahaya ada pada Kripto, ini adalah Mekanisme Penipuan yang memanfaatkan Kripto yang dipadukan dengan kemampuan Teknologi dan Rekayasa Sosial atau Manipulasi Psikologi. yang bisa diterapkan dengan memanfaatkan aset lainnya.

Kripto dipilih karena Teknologi yang membelakanginya (Blockchain) bersifat Desentralisasi, lebih jelas silahkan baca :

TAMBAHAN

Statistik "Pig Slaughtering" oleh Global Anti Scam Organization  :


Terkait :